Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beby blues

Wanita jika telah berumah tangga selalu mendambakan kelahiran seorang Beby dari rahimnya. Begitu juga Bu Retno, aku memanggilnya. Bu Retno stafku yang unik, mengalami depresiasi setelah melahirkan anaknya yang ke-3. Jika obat yang harus dikonsumsinya habis maka selalu terjadi kisruh dan kegaduhan di ruangan kantor. Kemanapun dia ditempatkan semua akan menolaknya.

 

Aku ingat, jam istirahat dia memasuki ruangan ku dengan wajah memelas, bercerita nasibnya ditinggal menikah lagi oleh suaminya, dan anak yang tak peduli akan dirinya. Aku selalu mendengarkan cerita dukanya, dan lain waktu dia akan cerita lagi tentang hal yang sama, selalu berulang dan berulang cerita itu,lama kelamaan aku jadi hafal ceritanya. Bu Retno mengajukan permohonan peminjaman uang untuk beli bahan rajutan. Seminggu kemudian tas rajutan cantik terletak rapi di atas mejaku.  Di depan pintu ruanganku juga sudah berdiri pohon jambu madu dalam pot plastik. Pukul 5 sore Bu Retno memasuki ruangan ku di hari yang sama, tanpa hijab, baju kaus warna merah menyala,lengkap dengan training biru menyala, ucapannya meracau dan meraung- raung di ruanganku, dan biasanya jika begini semua kawanku akan menghindarinya.

 

Hari ini hari ibu, aku terkenang Bu Retno, di mana dia sekarang? Lamunanku buyar, ketika Anis temanku menghubungi ku, " ibu, sudah dapat kabar? Bu Retno tabrakan di simpang Pattimura, korban tabrak lari, saat ini kritis di ruangan UGD RSUD, { Lasia Kabran}

Posting Komentar untuk "Beby blues"